“Salah Satu Tugas Utama Gerakan Massa yang berkarakter Progresif adalah, Mempersiapkan, Membangun Kesadaran Politik Massa dengan memberikan Pendidikan Politik secara tepat..., sehingga lahirlah perlawanan sekaligus perjuangan yang dahsyat, Karena Massa yang melakukan perlawanan dan perjuangan itu terdidik pikiranya, terorganisir sikapnya dan terpimpin tindakanya” (Kent, Kumpulan Karya 2004).
Suatu masyarakat dapat dikatakan telah mencapai tingkat kebudayaan yang tinggi, karena maju dalam pengembangan teknologinya (arsitektur, irigasi, tata kota, jalur dan sarana transportasi darat, laut dan udara, dll), maju perekonomiannya (suatu sistem produksi dari corak produksi yang menggunakan tenaga tangan mulai tergantikan dengan industri manufaktur), dan maju tingkat pola pikir masyarakatnya salah satunya adalah mulai mengenal organisasi modern sebagai sebuah sistem dan alat perjuangan kolektif untuk memajukan taraf kesadaran politik massa. Ribuan bukti sejarah perjuangan manusia di seluruh dunia dapat dijadikan dasar untuk melihat hal tersebut.
Selanjutnya dalam praktek kehidupan sehari hari, sebuah organisasi di hadapkan pada tuntutan untuk melakukan upaya sistematis dalam persoalan konsolidasi teori maupun massa yang akan dibawa berjuang dengan segenap potensi dan energi berlawan dalam menghancurkan musuh-musuh utama rakyat dan selanjutnya bersama sama dukungan penuh dari kekuatan pokok rakyat, yakni kelas proletar yang kokoh dan berhari depan untuk membangun dan menegakan demokrasi yang sejati.
Inilah yang harus yang dipahami, mungkin harus diwaspadai oleh keseluruhan anggota dan massa di organisasi kita. Lihatlah situasi dan kondisi ekonomi politik, social budaya nation ini sudah dapat dikatakan mengkristal menjadi system social yang mensyratkan secara material masih dibawah penindasan dan penghisapan manusia atas manusia. Sistem itu tiada lain adalah kapitalisme yang bergerak dan memuncak sampai level yang tertinggi.
Kenyataan itu di tambah lagi keadaan obyektif tata social politik Indonesia yang makin hari-makin tidak menunjukkan keperpihakan kepada massa konstituenya manakala rezim komprador yang berkuasa dalam tindak tanduk politiknya masih mempraktekan apa saja yang diperintahkan oleh kaum pemodal yang berpusat di negeri-negeri kapitalisme utama maupun di lembaga-lembaga moneter internasional, sehingga arus demokratisasi yang bergerak sejak reformasi digulirkan terinterupsi dan di buat semakin mendekat ke system yang liberal.
Imperialime (penjajahan gaya baru) yang membangun persekutuan di negeri ini dengan para kompradornya mulai jaman kolonialisme (Belanda, Inggris) Jepang, ORLA dan dilanjutkan sampai kekuasaan tangan besi ORBA bahkan sampai detik ini, Mereka masih memainkan mesin-mesin penindasanya. Otomatis hal ini membuat golongan reaksioner dalam maupun luar negeri mendapatkan syarat-syarat material untuk terus melaksanakan penjajahan, pembodohan, dan hegemoni alias pengilusian kesadaran berlawan dari kekuatan paling progresif dan revolusioner dalam zaman ini yakni massa rakyat pekerja.
Sadar-sesadarnya bahwa keadaan massa saat ini, memang lahir ditenggah iklim yang liberal penuh dengan kepalsuan dan janji-janji manis tentang kecantikan dan keberhasilan kapitalisme diberbagai belahan dunia,- yang diperkenalkan lewat salah satu alat ideologinya yang cukup ampuh yaitu sekolahan/universitas maupun penguasaan media massa.
Karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi organisasi gerakan untuk mengimbangi langkah dan tindakan mereka yang hegemonic dan sistematis dari mereka, dengan membuat, menyiapkan kemudian menjalankan system pendidikan yang progresif (teori maupun praktek) kepada massa anggota secara sistematis, bertahap, tematik yang bertujuan untuk menghancurkan ilusi sesat dalam pikiran massa (baik yang berkembang maupun akan muncul). Usaha pendidikan politik, pelatihan skill gerakan, kursus-kursus pengenalan stratak organisasi kepada massa anggota adalah bagian pokok yang paling fundamental dari pekerjaan sehari hari organisasi untuk mempersempit jurang atau taraf kesadaran didalam massa organisasi kita.
Memahami bahwa persoalan pengenalan dan tahap pembangunan kesadaran politik massa itu tidaklah gampang, karena pemahaman massa itu secara obyektif berlapis-lapis sesuai dengan keadaan social yang turut menentukan terbentuknya kesadarannya. Dalam hal ini dapat digolongkan dalam beberapa jenis dan karakternya, yaitu; massa maju dan massa terbelakang. Tentu saja masing masing jenis massa itu memiliki kebutuhan dan kesadaran yang berbeda beda diantara satu jenis dengan jenis yang lain, tapi organisasi dilahirkan untuk mempersempit jurang perbedaan taraf kesadaran dan pemahaman di antara mereka. Sementara pada sisi yang lain program-program dan rangkaian aksi (praktek edukasi, aksi massa dll) yang telah disusun, secara subtansi memang seyogyanya dipahami secara tepat oleh petugas organisasi, sehingga dalam pelaksanaanya itu tidak muncul persolaan-persoalan tekhnis dilapangan.
Setelah memahami, menyerap, menganalisa dan menyimpulkan pikiran dan kebutuhan massa, tentu sangat konyol apabila pelaksanaan agenda pokok internal organsiasi yang diturunkan dalam kerja-kerja pendidikan massa dilaksanakan secara formalistic belaka (gugur kewajiban), sehingga bisa diprediksi hasil yang di capai dalam proses edukasi tersebut pasti menghasilkan anggota-anggota yang tidak memilki perspektif lengkap tentang masalah-masalah pokok rakyat dan gerakanya, bisa jadi situasi kerja edukasi dalam organsasi-organsasi progresif bisa di tetapkan sebagai salah satu bagian otokrtik dari gerakan rakyat di Indonesia saat ini.
Lantas apa yang menjadi arti penting dari perencanaan dan praktek kerja pendidikan di organsasi massa progresif, Pertama : Sebagai usaha awal untuk menghindari salah pemahaman dan sasaran atas materi-materi pendidikan pada massa. Kedua : Sebagai usaha untuk menghancurkan pikiran palsu dikalangan massa anggota dan massa luas, yang muncul akibat kerasnya proses penjajahan dan hegemoni pendidikan ala kapitalisme, yang selalu menghasilkan manusia-manusia pragmatis dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Ketiga: Tentu saja hal ini juga sebagai, penjabaran dari prinsip kerja gerakan massa, yaitu Tentang Garis Massa yakni; bertolak Dari Kepentingan Massa Dan Bertindak Sesuai Dengan Kesiapan Massa.
Bertolak dari kepentingan massa, dapat kita simpulkan melalui analisa sejarah / sosiologi masyarakat Indonesia yang harus dibebaskan dan dituntaskan dengan menghancurkan musuh rakyat yaitu, Imperialisme. Sementara, Bertindak sesuai dengan kesiapan massa memiliki Dua Pengertian yaitu; Satu, Bahwa organisasi gerakan itu dimanapun saja sector dan teritorinya (buruh, tani, mahasiswa, dan borjuis kecil progresif lainnya) pasti mengemban keharusan dan tangung jawab untuk mendidik massa yang bertujuan mengganti dan menyuntik kesadaran palsu massa dengan teori dan praktek yang maju, yang bisa dikemas dalam program-program dikpol, kurpol, workshop, pelatihan-pelatihan skill dan pengenalan stratak organisasi untuk membangun kesiapan massa sehingga akan lahir para pimpinan massa yang lahir dari praktek perjuangan. Dua, Organisasi gerakan tentu tidak boleh menolak massa sadar berapapun jumlahnya dan kualitasnya, karena kalau kita tolak tentu organisasi kehilangan kesempatan dalam membarengi atau memimpin kesadaran massa.
Hal diatas penting untuk dipahami oleh para pimpinan dan anggota organisasi, maka akan sedikit banyak membantu pekerjaan penyebaran gagasan dan ide maju kekalangan massa. Persoalanya adalah sejauh mana praktek-praktek kita kemarin dan masa yang akan datang dalam usaha usaha memajukan kesadaran politik massa di semua komite yang ada di Serikat Mahasiswa Indonesia. Itulah yang harus di periksa secara mendalam.